Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib kita tunaikan, namun sayangnya masih banyak di antara kita yang memahami makna zakat ini masih sebatas Zakat Fitrah saja, padahal ada juga zakat yang juga wajib ditunaikan, yaitu Zakat Mal ( Zakat Harta)

Zakat Mal bukan hanya bagi orang kaya yang hartanya melimpah. Harta yang kita miliki jika sudah memenuhi syarat maka harus dikeluarkan zakatnya. Dengan mengeluarkan zakat, harta kita akan menjadi bersih dan lebih bermanfaat.
Home » , » Zakat Sebagai Terapi Kegelisahan Jiwa

Zakat Sebagai Terapi Kegelisahan Jiwa

Written By BPS An-Nur Sidoarjo on Rabu, 31 Juli 2013 | 17:01

Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat telah tiada. Tokoh pendidikan Islam kelahiran Bukit tinggi   Sumatera   Barat   itu wafat  Selasa  15  Januari  2013  dalam usia 83 tahun di Jakarta. Zakiah memperoleh gelar Doktor (Ph.D) di bidang Mental  Hygiene  dari  Ein  Shams  University Cairo (1964) dengan disertasi, “Perawatan Jiwa Untuk Anak-Anak”.

Guru Besar Ilmu Jiwa Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu dikenang sebagai pelopor Psikologi Islam di Indonesia. Dia telah banyak berbuat melalui birokrasi, perguruan tinggi, dakwah, praktik konsultasi keluarga, dan tulisan-tulisannya  dalam memasyarakatkan  nilai-nilai  Islam untuk pembangunan keluarga dan pembinaan  nilai-nilai  moral  di Indonesia.
Zakiah Daradjat meninggalkan puluhan buku sebagai warisan cultural bagi generasi  mendatang. Salah satu bukunya, “Zakat Pembersih Harta dan Jiwa” (1992) yang membahas hubungan zakat dengan kesehatan mental, disertai contoh yang  terjadi  dalam  kehidupan  nyata. Ibu Zakiah Daradjat pernah menceritakan kepada penulis, latar belakang beliau menyusun buku dengan judul tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang mengeluh, cemas dan gelisah tanpa sebab, padahal orang itu kaya atau berkecukupan. Orang mengatakan,”…mungkin  selama  ini dia tidak mengeluarkan zakat.” Zakiah terinspirasi  menghadirkan  buku, “Zakat Pembersih Harta dan Jiwa”.
Dalam  buku  itu Zakiah  Daradjat mengajak pembaca memetik hikmah, seorang perempuan kaya di usia tuanya mengeluh kesehatannya terganggu. Selera makan hilang dan tidur tidak nyenyak. Dia telah berobat kepada beberapa dokter spesialis, namun tidak sembuh. Hampir tiap hari merasa penyakitnya bertambah berat. Seorang temannya berkata: ”Barangkali Anda tidak menunaikan zakat.” Tentu saja ditangkisnya  tuduhan itu. Dia merasa telah mengeluarkan  zakat, hampir setiap hari dia berzakat. Namun dalam hati  kecilnya  timbul  kegelisahan.

Untuk   menghilangkan kegelisahan, dia datang ke tempat praktik konsultasi Zakiah Daradjat.  Terjadilah  dialog sebagai berikut:
”Benarkah  penyakit  saya ini disebabkan karena tidak berzakat?”, tanyanya.
”Mengapa Anda bertanya demikian?”
”Belakangan  ini saya sering sakit. Macam-macam  penyakit yang datang. Obat yang diberikan dokter, tidak ada yang menolong. Saya ceritakan kepada teman, justru saya dikatakannya  tidak menunaikan zakat. Padahal saya selalu berzakat. Setiap ada orang minta sumbangan, selalu saya beri.”
”Bagaimana Anda menentukan berapa zakat yang wajib Anda keluarkan?”
”Yah, itu tidak saya hitung.  Yang penting hampir setiap hari saya mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah, kadang-kadang lebih.”
”Yang Anda berikan kepada orang  miskin  atau  peminta  sumbangan dengan cara seperti itu, bukanlah zakat, akan tetapi shadaqah atau sumbangan sukarela. Anda berpahala dengan shadaqah atau sumbangan seperti itu. Akan tetapi, kewajiban Anda  untuk  mengeluarkan  zakat dengan cara demikian, belum terlaksana.”
Wanita itu terdiam. Ia tersentak dan menyesali dirinya. Mengapa selama  ini tidak  menanyakan  kepada orang yang mengerti masalah zakat.
Menurut Zakiah Daradjat, ”Pada dasarnya harta memang menunjang kehidupan manusia. Sebaliknya, harta dapat berubah menjadi penyebab kegelisahan, perselisihan dan permusuhan. Karena harta, orang berkelahi. Karena harta, hubungan persaudaraan menjadi renggang,  bahkan karena harta, hubungan keluarga menjadi putus. Tidak jarang, perselisihan  anak dan orangtua terjadi disebabkan harta. Sebetulnya, bukan harta yang menjadi penyebab. Sebabnya mungkin cara mendapatkan   harta   itu   yang   tidak benar,  atau  sebagian  kecil  dari  harta itu  yang  sesungguhnya   milik  orang lain, tidak dikeluarkan.”
”Disinilah peranan zakat. Manfaat zakat bagi penerimanya sudah jelas, membantunya dalam memenuhi keperluan  hidup yang tidak dapat dipenuhinya sendiri. Sedangkan manfaat zakat bagi yang menunaikannya cukup banyak, terutama dalam menjadikan hidup  bersih dan sehat.  Boleh jadi orang tidak pernah menyangka bahwa zakat mempunyai pengaruh terhadap kesehatan,  baik  jasmani  maupun rohani. Memang ada sementara orang yang menjadi kaya atau banyak harta, menjauh dari orang miskin dan kurang perhatian kepada kegiatan sosial ke- masyarakatan. Ia terasing dari lingkungannya.”
Seringkali cinta kepada harta menyebabkan seseorang menahan zakat   yang  akan  mengurangi   harta atau pendapatannya. Sebuah kejadian tragis dialami seorang eksekutif  muda berusia 38 tahun, seperti dikenang Zakiah Daradjat  dalam  bukunya  di atas. Karirnya cukup bagus. Gajinya melebihi kebutuhan hidupnya. Punya rumah dan mobil pribadi. Anak-anaknya bersekolah di sekolah yang baik. Adapun tentang zakat pendapatan atau zakat profesi, dia mempunyai pendirian  lain. Menurutnya,  dia tidak wajib mengeluarkan  zakat itu, karena di zaman Nabi hal demikian tidak diatur.
Kehidupannya  berjalan  lancar tanpa menghiraukan zakat. Sampai beberapa tahun kemudian, ketika mencapai usia 45 tahun, kesehatannya menurun. Menurut diagnose dokter, dia  sebetulnya diserang psikosomatik, yakni gangguan kejiwaan yang mengakibatkan gejala fisik.    Karir yang tadinya bersinar mulai redup. Di kantor, dia tidak lagi diberi jabatan pimpinan.
Kesehatannya makin lama makin memburuk. Timbul penyesalan, mengapa salah satu Rukun   Islam, yaitu mengeluarkan zakat, tidak ditunaikannya. Ia ingin membayar zakat yang telah terlalu banyak bertumpuk. Akan tetapi penghasilannya  telah jauh berkurang,  sementara  harta yang ada harus dipertahankannya untuk biaya anak-anaknya yang telah menjadi remaja.
Kegelisahan  terus  membebaninya. Zakat terhutang tidak mungkin dibayar lagi. Dia meninggal dunia membawa perasaan berhutang kepada Allah.  Membawa   utang  zakat  yang tidak  akan  pernah  terbayar,  kecuali bila anak-anaknya  mau membayar utang zakat ayahnya.
Ada hubungan zakat dan kesehatan, terutama kesehatan mental, demikian Zakiah Daradjat menyimpulkan.  Dalam  Al Quran  ditegaskan, ”Ambillah   zakat   dari   sebagian   harta mereka,  dengan  zakat  itu kamu  membersihkan dan mensucikan  mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi  ketenteraman  jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS At-Taubah (9): 103).

Esei Mengenang Prof. Dr. Zakiah Daradjat
Pelopor  Psikologi Islam di Indonesia

Oleh M. Fuad Nasar, M.Sc
Wakil Sekretaris BAZNAS

0 komentar:

Poskan Komentar

Tentang Kami

Foto Saya
Badan Penyantun Sosial (BPS) An-Nur, yang berdomisili di Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, insya-Allah selalu siap menerima Zakat, Infaq dan Shodaqoh (ZIS) anda untuk kami salurkan kepada warga yang berhak dan layak untuk menerima. Kami ucapkan banyak terimakasih kepada semua Donatur, Muzakki, Mutashoddiq, dan semua saja yang telah mempercayakan ZIS-nya pada kami, semoga semua amal kita senantiasa diterima dan mendapatkan ridho-Nya. Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi kami di nomor 081330534156 (Supriyadi), 081333249171 (A Wahab)